Background Image

Suatu hari setelah gue minta putus dan dia ngejar balikan, gue nggak dibiarin bisa pulang

Home  /  datingranking coupon  /  Suatu hari setelah gue minta putus dan dia ngejar balikan, gue nggak dibiarin bisa pulang

Suatu hari setelah gue minta putus dan dia ngejar balikan, gue nggak dibiarin bisa pulang

September 16, 2022      In datingranking coupon Comments Off on Suatu hari setelah gue minta putus dan dia ngejar balikan, gue nggak dibiarin bisa pulang

Suatu hari setelah gue minta putus dan dia ngejar balikan, gue nggak dibiarin bisa pulang

-Setiap gue yang berusaha minta putus dan nyampein alasan gue baik-baik, dia juga akan ngamuk, terus mohon-mohon balikan, dan lagi-lagi stalking terus ngancem.

Setelah berkali-kali usaha tapi nggak gue bales, akhirnya dia ngegas mobilnya berkali-kali dan ngancem untuk nabrakin mobilnya ke mobil lain: “Kalo gitu kita mati bareng-bareng aja (= kalo aku nggak bisa milikin kamu, nggak ada orang lain yang bisa sama kamu juga -red).”

Jadi inget quote-nya und auch Pike) pas nonton “I Worry a lot” semalem. Walaupun kalimat ini digunain di konteks yang beda dan karakternya dia bener-bener gue benci di situ, tapi kalimatnya cocok banget sama keadaan yang gue gambarin tadi.

“He produced risks since dangers are all he’d remaining. You simply can’t encourage a lady accomplish what you need, you then telephone call this lady good bitch, and threathen to kill her.”

Tapi untung alam semesta masih sayang sama gue, akhirnya gue ngalamin apa yang Dinda alamin. Di satu malem ketika lagi ngobrol di mobil (ini setelah gue udah mengalami semua abuse, udah nyoba putus dan lain-lain tapi tetep masih dikekep), dia mengucapkan sesuatu yang menurut gue sangat condescending (merendahkan). Alus sih ngomongnya, seolah sok peduli gitu, tapi intinya adalah dia nggak nganggep gue itu setara dan sama berdayanya sama dia yang laki-laki untuk mencapai apapun yang kami mau. Bukannya gue kepedean ya. But I understand by heart I am a go-getter. Gue nggak akan biarin perbedaan gender, sistem patriarki dan misogini, perbedaan usia, perbedaan kelas sosial menghalangi gue untuk ngejar hal-hal yang gue mau di hidup gue.

Orang yang udah selesai sama dirinya sendiri nggak akan takut “kebalap” sama partnernya, tapi justru berkembang bareng-bareng. Segala omongan gue soal cita-cita dan minat gue cuma didenger sambil lalu, jadi ya udah, mendingan gue jalan sendiri aja. Karena kalimat dia malem itulah, alhamdulillah gue langsung ilfil di tempat. Assuming that you do not become some thing any longer, dealing with a devil is a lot easier. Orang-orang yang ngejalanin sistem concern-mongering dalam menjaga pasangannya supaya nggak lepas akan paling takut kalau kita udah cuek dan nggak peduli. Kalau minta putus dan ngomong langsung baik-baik berakhir digebukin, ya sudah, pake cara yang paling gampang aja: I recently gone away. They concluded inside the a text message and i kept. I provided not room so you can interaction nor conference deal with so you’re able to deal with. I went out-of my put straight away. I banned that which you. We told my bestfriends, household members, associates, and Hour department and so i got shelter.

Kami di jalan, masih di dalam mobil dan gue nggak sekalipun mau bales ucapan I like you-nya, jadi gue diem aja

Salah satu yang paling damaging atau merusak dalam hubungan harmful gue dulu adalah obsesi dia untuk menjadikan bentuk gue secara fisik sesuai selera dia. Tadinya dengan alasan supaya sebagai orang Public relations (Advertising), gue sebaiknya nampak presentable. Reasonable enough, I was thinking the best dating sites for casual sex first occasion. Tapi gue mulai merasa ada yang aneh ketika seminggu setelah jadian, begitu gue ngajak makan malem, dia ngamuk-ngamuk. Katanya gue kok nggak ada niatan jaga badan, nggak canoe mantan-mantannya yang berlomba-lomba tampil makin kece bikin dia nyesel setelah mereka putus (WAW PEDE YA ANDA, padahal bisa jadi mereka self-care buat diri sendiri). Padahal pas PDKT dia bilang paling suka liat gue makan (nggak sok-sok diet atau makan cimit-cimit atau jaim depan dia), katanya “hidup” banget dan apa adanya.

Padahal dia tau gue punya segudang mimpi dan ambisi yang pengen gue kejar, and i slowed down inside the relationship while the I thought he’s scared of myself overshining him in a sense

Dari sini gue mulai liat pola, ketika belum dapetin gue, dia akan bersikap seperti huntsman aja, menyesuaikan pembawaan diri dengan target yang dituju. Waktu akhirnya ngerasa udah ada teritori nih, udah (serasa) hak milik…

Comments are closed.
Loading...